Anti Busana Gank
April 30th, 2008 by nangwKita seringkali heboh dengan Putri Indonesia yang ikut kontes lenggang-lenggok Miss Univers. Urusannya tak berubah sejak dulu, sang putri mesti pakai baju renang dibawah tatapan banyak laki-laki di sekeliling panggung dan milyaran penonton televisi. Ini tak sesuai dengan budaya timur kita yang katanya cenderung sopan, tertutup dan tidak mengumbar kulit dan daging begitu. Maka banyak orang menjerit. Ratusan menjerit miris, meminta sang putri pulang dan tak usah berpakaian renang dipanggung jika Cuma ingin tenar. Ribuan orang menjerit histeris, meminta sang putri terus maju dan membuka lebih banyak lagi pakaiannya atas nama penilaian kecantikan.
Itu di level nasional dan dunia, yang karena potensi pengaruhnya pada permisivitas dirasakan sebagian orang harus dijeriti. Di level yang lebih lokal, kita punya urusan yang tak kalah seru. Kostum para perempuan ABG (anak baru gede), remaja dan dewasa kita.
Tengok saja di aneka mal yang menjamur, baju perempuan yang semakin mini ukurannya semakin semarak. Jika dulu kelihatan perut atau pundak adalah pilihan, sekarang sangat mudah untuk menemukan keduanya pada satu sosok perempuan sekaligus. Celana panjang atau rok pun tak lagi nyangkut di pinggang, tapi hanya menclok mulai dari bawah pinggul.
Menakjubkan memang, semakin lama semakin banyak perempuan yang menjadi semakin permisif untuk urusan buka-bukaan ini. Awalnya mungkin malu-malu, tapi kemudian justru menjadi sangat malu jika perut tak kelihatan. Wajah boleh tak muncul, asal perut muncul. Nama, prestasi ataupun kecerdasan boleh tak dikenal orang asalkan pundak dan sebagian dada dikenal orang.
Tak heran jika kita menoleh pada dominasi media kita. Kalau itu sinetron, kostum yang paling banyak bersliweran ya model tank top atau kaos cekak. Kalau itu infotainment sama saja, musik begitu juga. Apalagi aneka program impor, tak Cuma tank top, tapi juga tank bottom dan side sekaligus. Repotnya, dibandingkan dengan program religi, porsi program dengan kostum model begini jauh lebih dominan.
Ini memang hegemoni budaya. Karena hampir setiap saat dibombardir dengan budaya model buka-bukaan begini, lambat laun kita merasa kostum model begitulah yang seharusnya kita pakai. Kalau di Amerika sana perempuan kelihatan perutnya tak apa-apa, kenapa kita harus malu. Kalau di luar negeri sana bahu, punggung dan dada boleh ditunjukkan pada siapa saja, kenapa kita tidak segera ikutan? Laki-laki ya atur sendiri emosinya. Ini kan sebuah kewajaran. Masa cuma lihat perut, pundak dan dada perempuan saja terangsang. Tak boleh begitu dong. Hormati ketelanjangan kami. Matikan rasamu, impotensikan saja dirimu.
Anehnya, ternyata banyak perempuan malah repot kalau saat duduk punggungnya tersingkap dan bokongnya menyeruak lebar. Atau saat harus membungkuk yang membuat dadanya tersingkap lebih sempurna. Apalagi jika lantas ada sosok cowok yang ikut memelototi jeroannya yang tersingkap itu, paniknya bukan main. Padahal untuk tak dipelototi cukup dengan mengenakanbaju yang lebih tertutup, yang tidak silang sengkarut sana-sini hingga organ tubuhnya tak keleleran kemana-mana. Padahal untuk tak dipelototi cukup dengan saling menjaga kehormatan diri dan orang lain agar penilaian orang bisa lebih mencakup aspek kemanusiaan secara holistik seperti kedewasaan, kecerdasan, keluasan wawasan dan lain-lain, bukan berkutat pada penilaian sempit mulusnya seonggok daging berbalut kulit.
Laki-laki itu memang sudah kodratnya tertarik pada wanita dalam segala aspek, termasuk detail struktur fisiknya. Jangan tuduh laki-laki semuanya mengidap impotensi sehingga disajikan ketelanjangan sedemikian rupa, semuanya akan diam saja tanpa terusik nafsunya. Jangan tuduh semua tak terbangkitkan hasratnya pada aurat perempuan yang sengaja disajikan dihadapan matanya. Kalau yang berujung pada nasihat atau tulisan seperti ini masih lumayan, tapi pada laki-laki lain bisa saja mewujud menjadi siulan, colekan, jamahan atau perkosaan. Kalau sudah begitu, pelakunya dihukum mati pun tak akan mengembalikan apa yang sudah direnggutnya.
Atau kalau sudah dengan sadar dan sukarela mengenakan baju cingkrang demikian rupa, ya mestinya juga sadar bahwa salah satu kemungkinan yang paling mengasyikkan selain masuk angin adalah dipelototi jeroannya dan ditatapi organ-organnya, gratis. Mestinya sadar juga bahwa salah satu konsekuensinya adalah kesatuan bokong, perut dan dada yang akan menyeruak lebih kemilau, mendominasi dan meniadakan aspek lain yang jauh lebih berharga sebagai manusia. Mestinya sadar juga jika kemudian tatapan mata para lelaki akan menilainya dengan sangat rendah, sebatas onggokan bokong, perut dan dada belaka. Tak perlu marah jika dipelototi jeroannya, tak perlu sebal jika diintipi organ-organnya. Jika sebagian orang merasa punya hak atas ketelanjangan dimuka umum, sebagian orang lainnya tentu merasa punya hak menikmati ketelanjangan yang disajikan itu. Ini kolaborasi pembangunan Anti Busana Gank yang mutualistik. Pengantar pada ketelanjangan dan ketidakmaluan yang lebih sempurna bagi generasi selanjutnya, anak-anak kita.
Ibu saya pernah menegur wanita muda yang menyusui bayinya dalam bis kota, “Bu, apa tidak baca itu peraturan di dinding bis?” katanya sambil menunjuk sebuah stiker bertuliskan DILARANG MENGELUARKAN ANGGOTA BADAN.
[Depok, 10 April 2005]