Anti Busana Gank

April 30th, 2008 by nangw

Kita seringkali heboh dengan Putri Indonesia yang ikut kontes lenggang-lenggok Miss Univers. Urusannya tak berubah sejak dulu, sang putri mesti pakai baju renang dibawah tatapan banyak laki-laki di sekeliling panggung dan milyaran penonton televisi. Ini tak sesuai dengan budaya timur kita yang katanya cenderung sopan, tertutup dan tidak mengumbar kulit dan daging begitu. Maka banyak orang menjerit. Ratusan menjerit miris, meminta sang putri pulang dan tak usah berpakaian renang dipanggung jika Cuma ingin tenar. Ribuan orang menjerit histeris, meminta sang putri terus maju dan membuka lebih banyak lagi pakaiannya atas nama penilaian kecantikan.

Itu di level nasional dan dunia, yang karena potensi pengaruhnya pada permisivitas dirasakan sebagian orang harus dijeriti. Di level yang lebih lokal, kita punya urusan yang tak kalah seru. Kostum para perempuan ABG (anak baru gede), remaja dan dewasa kita.

Tengok saja di aneka mal yang menjamur, baju perempuan yang semakin mini ukurannya semakin semarak. Jika dulu kelihatan perut atau pundak adalah pilihan, sekarang sangat mudah untuk menemukan keduanya pada satu sosok perempuan sekaligus. Celana panjang atau rok pun tak lagi nyangkut di pinggang, tapi hanya menclok mulai dari bawah pinggul.

Menakjubkan memang, semakin lama semakin banyak perempuan yang menjadi semakin permisif untuk urusan buka-bukaan ini. Awalnya mungkin malu-malu, tapi kemudian justru menjadi sangat malu jika perut tak kelihatan. Wajah boleh tak muncul, asal perut muncul. Nama, prestasi ataupun kecerdasan boleh tak dikenal orang asalkan pundak dan sebagian dada dikenal orang.

Tak heran jika kita menoleh pada dominasi media kita. Kalau itu sinetron, kostum yang paling banyak bersliweran ya model tank top atau kaos cekak. Kalau itu infotainment sama saja, musik begitu juga. Apalagi aneka program impor, tak Cuma tank top, tapi juga tank bottom dan side sekaligus. Repotnya, dibandingkan dengan program religi, porsi program dengan kostum model begini jauh lebih dominan.
Ini memang hegemoni budaya. Karena hampir setiap saat dibombardir dengan budaya model buka-bukaan begini, lambat laun kita merasa kostum model begitulah yang seharusnya kita pakai. Kalau di Amerika sana perempuan kelihatan perutnya tak apa-apa, kenapa kita harus malu. Kalau di luar negeri sana bahu, punggung dan dada boleh ditunjukkan pada siapa saja, kenapa kita tidak segera ikutan? Laki-laki ya atur sendiri emosinya. Ini kan sebuah kewajaran. Masa cuma lihat perut, pundak dan dada perempuan saja terangsang. Tak boleh begitu dong. Hormati ketelanjangan kami. Matikan rasamu, impotensikan saja dirimu.

Anehnya, ternyata banyak perempuan malah repot kalau saat duduk punggungnya tersingkap dan bokongnya menyeruak lebar. Atau saat harus membungkuk yang membuat dadanya tersingkap lebih sempurna. Apalagi jika lantas ada sosok cowok yang ikut memelototi jeroannya yang tersingkap itu, paniknya bukan main. Padahal untuk tak dipelototi cukup dengan mengenakanbaju yang lebih tertutup, yang tidak silang sengkarut sana-sini hingga organ tubuhnya tak keleleran kemana-mana. Padahal untuk tak dipelototi cukup dengan saling menjaga kehormatan diri dan orang lain agar penilaian orang bisa lebih mencakup aspek kemanusiaan secara holistik seperti kedewasaan, kecerdasan, keluasan wawasan dan lain-lain, bukan berkutat pada penilaian sempit mulusnya seonggok daging berbalut kulit.
Laki-laki itu memang sudah kodratnya tertarik pada wanita dalam segala aspek, termasuk detail struktur fisiknya. Jangan tuduh laki-laki semuanya mengidap impotensi sehingga disajikan ketelanjangan sedemikian rupa, semuanya akan diam saja tanpa terusik nafsunya. Jangan tuduh semua tak terbangkitkan hasratnya pada aurat perempuan yang sengaja disajikan dihadapan matanya. Kalau yang berujung pada nasihat atau tulisan seperti ini masih lumayan, tapi pada laki-laki lain bisa saja mewujud menjadi siulan, colekan, jamahan atau perkosaan. Kalau sudah begitu, pelakunya dihukum mati pun tak akan mengembalikan apa yang sudah direnggutnya.

Atau kalau sudah dengan sadar dan sukarela mengenakan baju cingkrang demikian rupa, ya mestinya juga sadar bahwa salah satu kemungkinan yang paling mengasyikkan selain masuk angin adalah dipelototi jeroannya dan ditatapi organ-organnya, gratis. Mestinya sadar juga bahwa salah satu konsekuensinya adalah kesatuan bokong, perut dan dada yang akan menyeruak lebih kemilau, mendominasi dan meniadakan aspek lain yang jauh lebih berharga sebagai manusia. Mestinya sadar juga jika kemudian tatapan mata para lelaki akan menilainya dengan sangat rendah, sebatas onggokan bokong, perut dan dada belaka. Tak perlu marah jika dipelototi jeroannya, tak perlu sebal jika diintipi organ-organnya. Jika sebagian orang merasa punya hak atas ketelanjangan dimuka umum, sebagian orang lainnya tentu merasa punya hak menikmati ketelanjangan yang disajikan itu. Ini kolaborasi pembangunan Anti Busana Gank yang mutualistik. Pengantar pada ketelanjangan dan ketidakmaluan yang lebih sempurna bagi generasi selanjutnya, anak-anak kita.

Ibu saya pernah menegur wanita muda yang menyusui bayinya dalam bis kota, “Bu, apa tidak baca itu peraturan di dinding bis?” katanya sambil menunjuk sebuah stiker bertuliskan DILARANG MENGELUARKAN ANGGOTA BADAN.

[Depok, 10 April 2005]

Kilau Emas Di Tengah Badai

November 19th, 2007 by nangw

Pernah merasakan di caci maki? Oleh orang yang secara struktur maupun hubungan kemanusiaan model manapun sebetulnya tak punya sedikitpun wewenang untuk menyerapahi kita? Jika pernah, beruntunglah Anda.

Ya, beruntung karena tahu betapa tak nyamannya ada dalam posisi seperti itu. Apalagi ketika sebetulnya karena niat baik yang kita sampaikan, ddengan cara yang sudah dibuat sebaik mungkin walau secara subyektif bisa saja dinilai pura-pura, tak sopan, tak pas dan lainnya.

Dengan pemahaman atas rasa tak nyaman itu, tentu saja kita punya 2 pilihan. Mengamalkannya dengan jalan ganti mencaci maki orang yang menyerapahi kita, bahkan dengan pilihan kata yang lebih membunuh, menyakiti perasaan dan memporak-porandakan kehormatannya, atau sebaliknya, memberikan senyum semanis mungkin sambil berdoa semoga kegelapan emosi tak lama-lama menyelimuti hatinya. Atau setidaknya mendoakan agar inilah caci maki kasar terakhir yang keluar dari mulut beliau untuk seterusnya digantikan dengan ketenangan hati dan jiwa dalam kesadaran saling memanusiakan.

Jika pilihan pertama yang kita ambil, bisa saja si pemaki itu segera terkesiap karena kosa-kata buruk kita ternyata jauh lebih lengkap dan dahsyat dampaknya. Tapi, lantas apa bedanya kita dengan beliau? Segarispun tak lebih tinggi derajat kita karena jangan-jangan kesempatan itulah yang kita tunggu untuk bisa memaki sekaligus tak dipersalahkan karenanya. Jangan-jangan sebetulnya kita jauh lebih dikerumuni nafsu, emosi dan tanpa pengendalian diri. Jangan-jangan kita tanpa sadar telah berjamaah dengan beliau untuk terjun bebas ke dasar lumpur amarah yang membutakan hati.

Pilihan kedua tentu jauh lebih berat. Bayangkan, dalam caci maki oranglain atas diri kita kok malah mendoakan yang baik bagi beliau. Kok malah minta supaya ditenangkan hati dan jiwanya.

Memang, tapi justru itulah asyiknya. Menjadi orang yang bisa mengalahkan diri sendiri adalah puncak kebahagiaan. Tersenyum saat orang memaki untuk membuat kita lemah adalah kekuatan. Doa yang baik bagi beliau ketika sumpah serapahnya menghimpit hati kita adalah kelapangan. Pengendalian diri yang baik saat lumpur membadai di hati kita adalah kilau emas.

Berat pasti, sulit tentu saja. Tapi kemarahan di atas kemarahan adalah api, nafsu di atas nafsu adalah kegelapan. Hanya air yang bisa memadamkan api, hanya bumi yang mampu menyerap halilintar. Batu mulia kesabaran dan kelapangan hati tentu jauh lebih berharga ketimbang tumpahan lumpur emosi, walau keduanya sama berasal dari dalam bumi. Setidaknya, sampaikan saja pada beliau si pencaci “aku berlindung kepada Allah dari godaan syaiton yang terkutuk…” Semoga syaiton di depan kita segera terdiam…

nangw@19.11.07

NINDA DALAM PELUKAN SAMPAH

August 12th, 2007 by nangw

Seminggu yang lalu di tumpukkan sampah itu, Ninda anakku bermain. Berkawan-kawan menikmati aroma sampah yang sudah lekat dengan 7 tahun kehidupannya. Aku tak pernah peduli dengan kotor bajunya. Bahkan juga tak peduli dengan kuman penyakit yang siap merasuki tubuhnya. Selama ini dia sehat-sehat saja. Kalau sesekali batuk dan sesak nafas ya biarlah. Jangankan kami yang miskin, penghuni tiga kompleks istana di atas bukit sana, yang setiap hari menyingkirkan sampahnya ke rumah kami inipun kadang juga sakit. Apalagi kami yang harus rela hidup berimpitan dengan sampah.

Tiga hari yang lalu Ninda sedikit demam. Wajahnya pucat. Dia tampak lunglai, tetapi tetap bermain di tumpukan sampah itu. Saya tak kuasa melarangnya. Raut wajah itu tampak jauh lebih sehat saat berjingkrak di sela kardus rombeng. Saya tak kuasa memindahkannya ke mal karena dia sangat tidak akrab. Mau masuk saja sudah dicegat pasukan berseragam. Tiap toko bersekat. Para penjual hanya berkenan membagi senyumnya pada mereka yang tampak berduit.

Bandingkan dengan sampah yang tak pernah dusta. Durian busuk tak pernah ragu melontarkan baunya. Aroma kulit udang tak pernah mencoba berganti bau menjadi kelopak mawar. Semua jujur dengan identitasnya sendiri.

Tiga hari yang lalu anakku pergi. Menyatu beku dengan sampak-sampah tempatnya bermain. Diselimuti kardus rombeng, durian busuk dan kulit udang, sahabat-sahabat yang begitu menyayanginya. Gunungan sampah itu ambruk mengubur Ninda anakku. Membawanya pergi bermain selamanya.

Hari ini aku mengamuk. Bersama puluhan penduduk desa yang sejak dulu tak pernah setuju desa kami dijadikan tempat sampah seluruh penduduk kota. Tak peduli segala janji kecanggihan pengelolaan yang ditawarkan, karena kami sangat paham bahwa di negeri ini ide dan konsep selalu hebat, tapi selalu sangat buruk pada kenyataan pelaksanaannya.

Hari ini kami mengamuk karena pamong negeri yang berjanji mendengarkan hati kami tak sudi menyapa. Hanya menoleh sesaat pada gunungan sampah dari dalam kabin buldosernya yang bersih dan nyaman. Dikelilingin puluhan pengawal yang menjadikannya menara gading di mata kami.

Hari ini kami mengamuk karena kami tak dimanusiakan. Dua jam kami menunggu kesempatan untuk didengar oleh pamong negeri, ternyata kami ditinggalkan tanpa sepatah katapun sempat terucap. Apakah pamong negeri jijik dengan baju-baju kami yag tak selicin sutera halusnya? Apakah pamong negeri mual mencium bau tubuh kami yag begitu lekat dengan sampah.

Kami hanya dihadapkan pada segerombolan pasukan bersenjata yang segera menghardik kami untuk diam, menuruti apa yang sudah diskenariokan atas nama undang-undang. Maaf, undang-undang itu ada dalam kehidupan anda pak Pasukan, bukan kami. Kehidupan kami hanya sampah, yang disanalah kami menemukan kejujuran dan harga diri kami yang kau rampok bersama pamong negeri. Undang-undang itu disetujui wakil rakyat yang tak mewakili kami sebagai rakyat. Kemiskinan kami tak terwakili di mobil mentereng mereka, kelaparan kami tak terwakili di perut-perut buncit mereka, gubuk reyot kami tak terwakili di istana megah mereka. Kami hanya karena undang-undang dipaksa menusuk wajah-wajah yang tak kami kenal di bilik suara.

Hari ini kami ditangkapi karena mengamuk. Dipukuli bagai anjing liar oleh gerombolan pasukan yang senjatanya kami belikan bersama jutaan rakyat lainnya. Ditendangi hanya karena menjeriti pamong negeri yang meninjau tumpukan sampah dengan escavator nyaman berpendingin sehingga bau busuk sampah tak menyentuh hidung dan kulitnya.

Mari pak pamong, mampirlah ke rumah kami. Tinggallah bersama kami barang satu dua minggu. Larutlah dalam kebusukan udara kami, nikmati kelaparan hari-hari kami. Tinggalkan jas mahalmu, lupakan mobil mewahmu, kesampingkan para ajudanmu. Manjakan dirimu dengan sampah, mandikan kulitmu dengan air busuk, maka kau akan paham kenapa hari ini kami mengamuk.

Mari gerombolan pasukan, sambangi kami barang satu dua bulan. Buang tameng dan tongkatmu, gantikan dengan keranjang dan tongkat pengais sampah. Lepaskan seragammu, pakai saja kaos-kaos rombeng kami, maka kau akan mengerti makna undang-undang yang kau pekikkan di telinga kami hari ini.

Kami mana mampu melawanmu pak pamong negeri dan pak pasukan. Badan kami begini kurus, sedang kau tegap perkasa. Perut kami begini pipih sedang kau sampai buncit membuncah. Senjatamu begitu lengkap sedang yang kami punya hanya ketabahan.

Amuk kami bukan pembangkangan, hanya ketakberdayaan. Jerit kami bukan perlawanan, hanya keputusasaan. Bukan karena pak pamong sibuk sedang kami bekerja tanpa juntrungan, maka pak pamong boleh membuat kami menunggu untuk ditinggalkan sementara kami harus tetap ramah. Bukan karena pak pasukan gagah perkasa sedang kami tak berdaya maka kami boleh dipukuli, ditendangi tanpa boleh melawan karena undang-undangmu.

Sungguh, kami hanya butuh perlakuan sebagai manusia, bukan sebagai sampah. Mereka sahabat kami, sahabat Ninda anak kami.

[Depok, 10 April 2005]

PULANG KE KAMPUNG HATI

March 23rd, 2007 by nangw

Malam ini hanya berjarak beberapa hari ke Idul Fitri. Lebaran, begitu banyak orang di Indonesia menyebutnya. Seperti biasa, Jakarta pada masa-masa seperti ini selalu jauh lebih lengang dari hari-hari biasa. Sebagian penduduknya sudah pulang kampung. Mudik istilah populernya. Kombinasi kata udik ditambah awalan me. Mengudik aslinya, lantas menjadi lebih nyaman dan akrab dengan disebutkan sebagai mudik.

Kamar-kamar kos di sekeliling kamarku nyaris sudah kosong semua. Penghuninya sudah sejak kemarin-kemarin mudik ke desa masing-masing. Ken salah satu yang akan berangkat malam ini. Di dalam kamarnya ia tampak sibuk mengepak berbagai pakaian dan bawaan lain. Aku memperhatikan sambil duduk mencangkung di kusen jendela kamarnya yang memang cukup lebar untuk dicangkungi.

“Ken…” tak tahan aku untuk tak bicara.

“Hmm..?” tanpa menoleh, Ken menyahuti.

“Apa asyiknya sih mudik di saat begini?” kusandarkan punggungku ke kusen jendela, “jalan macet, angkutan berdesakan, harga tiket terserah calo… nyaris tak ada yang mudah bukan?”

Ken hanya tersenyum.

“Kenapa tak pulang kampung saat lengang. Tengah tahun misalnya”

Ken menatapku.

“Kamu pernah mudik?”

“Ya nggak lah Ken. Orang tuaku kan dekat sini saja rumahnya”

“Sulit memang kuceritakan. Bukan soal magis, tapi ada kenikmatan tersendiri yang cuma bisa kamu rasakan kalau kamu menjalaninya”

“Apa nikmatnya?”

Ken kembali tersenyum. Memasukkan baju terakhirnya lalu menutup ranselnya yang sudah penuh sesak.

“Aku memang punya kehidupan di sini Na. Kamar kos ini, kampus, warung nasi, semua adalah kampung keduaku” Kali ini Ken duduk di ranjangnya sambil nikmat memeluk bantal tidurnya, “Tapi semua di sini cuma kampung geografis.”

“Maksudmu? Bukankah semua kampung memang disebut begitu berdasarkan lokasi geografisnya”

Ken lagi-lagi tersenyum

“Aku di sini karena ada perlu Na. Kamu sendiri, jika tak kebetulan kuliah dekat sini apa bakalan tinggal di kamar kosmu seperti sekarang?”

Aku tercenung, terpaksa membenarkan pernyataan Ken.

“Aku pun begitu Na.” Ken melanjutkan, “Aku ada di sini karena saat ini harus begitu. Kuliahku, kerjaku, arus perjalanan hidupku memuarakan aku pada kampung geografis ini.”

“Ibu kos kita begitu baik. Nyaris selalu tersenyum dan menyapa ramah setiap kali berpapasan jalan. Tapi coba bayangkan kalau kita molor membayar uang kos barang satu dua bulan saja. Apakah ada garansi ibu kos masih akan seramah sekarang? Alih-alih disenyumi, tak diminta segera berkemas dan enyah dari kamar kita saja sudah bagus bukan main” kali ini Ken tersenyum ganjil.

Aku tak tahu mesti bicara apa. Akhirnya pilih diam sambil terus menatap mata Ken. Mencari arah kenyamanan di balik muntahan kata-katanya. Hanya sesaat. Ken kembali maju.

“Begitu juga dengan ibu warung. Sepanjang kita punya uang untuk membayar makanan yang kita makan, pasti sepanjang itu pula kita mendapatkan keramahannya. Tapi coba saja jika suatu saat kita kehabisan uang dan utang makan. Sekali dua kali mungkin masih bisa walau dengan kadar keramahan yang banyak dipangkas. Tapi jika begitu terus menerus, apa iya ngga lantas makanan lezatnya diganti dengan sajian raut wajah beringas?”

Mau tak mau aku tersenyum membayangkan logika Ken dalam kenyataan. Ken menarik nafas sebentar. Mengambil gelas berisi air putih yang diletakkan dekat botol minumnya. Sambil meneguk isinya, ia terus bicara.

“Teman-temanku juga begitu Na. Waktu aku terkapar kena tifus dulu, kau dan Lodi memaksa aku untuk rawat inap di rumah sakit. Walau aku tak bisa tidak berterima kasih sudah diantar ke sana pagi-pagi buta, tapi aku juga paham bahwa meminta aku dirawat bukan melulu karena aku mesti dirawat inap, tapi karena jika aku tetap di kos, potensi untuk merepotkan kalian akan lebih besar.. hahaha… Ngaku saja lah Na…” kali ini tertawa Ken begitu lepas diantara kilat jahil matanya.

Aku tersenyum kecut. Haha.. jeli juga teman satu ini menelisik batin kawan-kawannya. Sejujurnya dibangunkan lewat tengah malam untuk mengantar teman ke rumah sakit memang bukan hal yang menyenangkan walau aku juga tidak menggerutu untuk melakukannya.

Sekejap kemudian tatapan Ken berubah. Sorot matanya menajam. Rautnya jadi jauh lebih datar.

“Di kampung aku punya ibu dan ayahku yang bagaimanapun keadaanku mereka akan selalu menerima hadirku. Tak peduli aku miskin atau kaya mereka selalu menyambutku. Tak jadi soal aku pintar atau bebal, mereka akan tetap ramah dan sayang padaku. Tak urusan aku sehat, sakit atau malah agak gila sekalipun, aku tetap anak mereka. Di sana ada kakak dan adikku, ada teman-temanku yang sejak kecil sudah bersama menukil jejak membentuk kampung kami. Mau susah, mau senang, keluargaku selalu jalani bersama. Tak ada hitung-hitungan untung rugi untuk saling sayang, memberi dan menolong, kapanpun dibutuhkan.”

Kurasakan bertambah lebar hantaman kenyataan yang menyadarkanku tentang Ken, juga tentangku.
“Itu kampungku Na,” lanjutnya “Kampung dimana aku tinggal dan diterima di sana bukan sebagai orang yang punya uang atau tidak, bukan sebagai mahasiswa, karyawan, orang sukses atau segala atribut lainnya. Di sana aku diterima sebagai manusia, apa adanya. Dihargai karena aku manusia, diterima karena aku manusia tak peduli aku bebal, kere atau penyakitan. Itu kampungku Na, kampung hatiku”

Aku merasakan betapa dahsyat letupan semangat itu. Semangat menampar realitas sosial kota besar yang semakin lama semakin materialistik. Semakin penuh hitung-hitungan untung-rugi belaka, sampai untuk urusan membantu sesama pun banyak yang mesti masuk TV dulu baru menyumbang. Di sisi lain, realitas sosial yang sangat sulit untuk tak dicemplungi karena berbagai ketersudutan.

Kepalaku, terutama aneka pikiran yang berputar dalam batoknya, terus mengalir, membawaku mengantar kepergian Ken dengan motornya. Ken tersenyum singkat dibalik helmnya. Nyaris tak bisa kulihat. Sedikit anggukan lalu dia meluncur mantap menembus malam. Pulang menuju kampung hatinya.

Ken, aku berjanji sekembalinya kau nanti, akan kubuatkan kampung hatimu juga di sini. Bersama, seluas mungkin, semampuku, agar kelak dimanapun kita berada, kita akan selalu bisa berada di kampung hati kita. [] depok, 020207

JUJUR DIABSURDITAS KOTA

December 17th, 2006 by nangw

Sehabis makan malam bersama dua teman, dua orang diantara kami lantas terbukti menjadi sangat miskin. Uang di kantong saya tersisa lima ratus rupiah. Teman yang lain punya selembar ribuan. Yang agak lumayan teman ketiga yang masih punya selembar lima puluh ribuan.

Teman kaya kami meminta kami menemaninya membeli beberapa buku. Untuk sampai ke toko buku, kami mesti naik angkot. Masalahnya, ongkos angkot untuk tiga orang adalah dua ribu rupiah, sedang kami cuma punya seribu lima ratus. Untuk membayar dengan lima puluh ribuan, kami takut merepotkan karena uang kembali yang sangat besar dan jarak tempuh yang terbilang dekat.

Semula saya memilih tidak ikut agar uang yang ada cukup untuk ongkos dua orang. Tapi ketika angkot datang, dua teman saya tetap menjinjing saya masuk ke dalam angkot.

Saat prosesi pembayaran, teman saya menyodorkan seluruh uang yang kami miliki.
“Pak, kami punya uang lima puluh ribu dan seribu lima ratus. Bapak mau kami bayar dengan yang mana untuk tiga orang sampai toko buku? Saya tahu seribu lima ratus tidak cukup, kalau bapak tak keberatan, saya bayar dengan uang lima puluh ribu saja. Ada kembalinya pak?”

Saya dan dua teman lain berdebar menunggu jawaban pak supir. Wajahnya segera masam.

“Nggak usah bayar saja mas. Kalau ada kembalinya juga nggak saya kasih. Sopir angkot kaya saya punya uang berapa sih…”

Saya terkejut di belakang punggung pak sopir. Bingung harus berekspresi bagaimana. Dari gaya dan nadanya saya tahu pak sopir ini sebal. Mau ambil yang seribu limaratus, pada kenyataannya memang kurang, mau ambil yang limapuluh ribu kok tidak ada kembaliannya. Entah keputusan tulus atau ketetapan gengsi, akhirnya beliau malah pilih tak ambil keduanya, alias menggratiskan.

Ini barangkali salah satu produk gratisan yang paling mentidaknyamankan saya. Dimata pak sopir, kami pasti sekelas para preman yang rutin mengompasi mereka, atau nebeng semaunya tanpa pernah membayar, seakan angkot itu milik mbahnya. Padahal kalaupun betul angkot itu milik mbah saya, saya malah pilih membayar penuh karena tahu bagaimana galaknya mbah saya pada kecurangan.

Begitulah, di kota besar yang penuh trik dan akal bulus ini, ternyata menjadi jujur pun tak gampang. Menyodorkan keterbukaan tak selamanya akan ditengarai sebagai sesuatu yang baik. Jika saja saat itu kami pilih berlagak galak, berlagak seram dan sekalian menakut-nakuti pak sopir, mungkin malah akan lebih diberi senyum, walau sekedar senyum kecut ketakutan. Kalau kami tak bilang-bilang punya uang, dan langsung duduk menggebrak, mungkin beliau malah tak akan banyak cingcong. Hanya saja kami tak pilih pendekatan itu, selain karena memang lebih ingin jujur, juga karena sosok kami tak begitu cocok untuk segalak preman. Teman saya yang kaya jelas terlalu buncit dan berminyak untuk seorang preman. Teman satunya lebih menunjukkan wajah seorang kutu buku. Sedang saya sendiri jelas terlalu kurus kering untuk jadi preman.

Tetap saja ini mengganggu. Mungkin pak sopir itu terlalu banyak menemui para penumpang berkedok di hari-harinya. Mereka yang berlagak kehilangan dompet, lupa bawa uang, kecopetan, atau yang betulan preman dan tak mau bayar. Dengan begitu, wajah-wajah merintih, mengiba atau galak sekalian sudah tak asing lagi bagi pak sopir. Beliau sudah kebal, sudah tak merasa perlu membedakan mana seringai musang, mana pekok ayam ketakutan. Semua sudah menjadi musang dihadapannya. Kota besar dengan segala keculasannya mengajarkan beliau untuk begitu, atau tertindas.

Maka, diperjalanan pulang, kami menebus ketidakenakan kami dengan membayar ongkos dua kali lipat dari yang semestinya. Tentu saja pak sopir kali ini kebingungan karena jelas dia sopir yang berbeda dengan yang kami tumpangi sebelumnya. Kami ceritakan sedikit asal mulanya, kami serahkan uangnya, lalu kami tinggalkan beliau dalam kebingungan.

Uangnya mungkin tak akan sampai pada sopir pertama, tapi setidaknya kami berharap cerita kami suatu saat nanti sampai kepadanya, agar mau betul-betul memaafkan kami, dan mengikhlaskan antaran angkotnya bagi kami kala itu. Lebih dari itu, agar beliau tahu bahwa kami betul-betul hanya ingin jujur kepadanya, bukan ingin dicurigai. []nangw@03.06.04

POLIGAMI, REALITAS, REALISTIS

December 12th, 2006 by nangw

Horeee… kita rame lagi… Kali ini nuansa diskusi di banyak saluran, mulai dari antar mulut, sampai diskusi serius di media massa, diliputi oleh perbincangan seputar poligami. Ide awalnya apalagi jika bukan pernikahan kedua ustad kondang KH Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym.

Segera setelahnya, poligami jadi bahan cacian paling menarik di banyak percakapan. Sejenak meredam isu nasional seperti lumpur Sidoarjo, korupsi, kemiskinan dan banyak isu sentral lainnya.

Dalam sebuah perjalanan Depok-Joglo yang lumayan panjang, saya sampai mesti ikut terseret dalam diskusi topik ini. Teman seperjalanan saya menyatakan betapa kesal dan tak percayanya dia ketika menemui kenyataan bahwa Aa Gym yang selama ini diidolakannya ternyata melakukan poligami. Mati-matian dia menyergah, mengutuk, mentidaksetujui apa yang dilakukan Aa.

Saya agak rikuh mengomentarinya. Maka saya mencoba menyatakannya senetral mungkin, karena menurut saya, esensi dasarnya bukan apakah kita setuju atau tidak setuju dengan poligami. Kalau urusannya sebatas setuju atau tidak, tiap orang tentu boleh punya pandangan sendiri-sendiri, kita kan sedang senang-senangnya dengan ajaran demokrasi. Dengan asas itu pula mestinya tak ada alasan untuk mencerca orang yang berpoligami. Asal yang menjalani setuju, ikhlas, ya tak masalah mestinya kan. Orang kan tak boleh diseragamkan. Sama seperti ketika RUU APP banyak ditentang justru oleh kaum wanita, dengan alasan itu hak mereka untuk berbusana macam apapun yang mereka mau.

Saya mulai diskusi dengan kawan saya begini, kalau kamu menganggap semua poligami itu salah, maka kamu akan selalu kecewa tiap ada orang yang berpoligami. Tapi jika kamu merasa ada poligami yang memang dbolehkan, maka kamu punya kesempatan untuk tidak kecewa.

Lebih jauh saya coba ajak diskusi begini, suka atau tidak suka, dalam agama Islam ada ayat Alqur’an yang membolehkan poligami meskipun harus dipahami bukan berupa anjuran, dan dipagari dengan syarat yang sangat ketat. Suka atau tidak suka, Rasulullah juga melakukan poligami, tentu dengan contoh yang sangat tidak mengedepankan nafsu, tapi lebih pada kemaslahatan istri-istri yang dinikahinya serta umat yang dipimpinnya.

Jadi, jika yang kita benci adalah poligami, jika kita muslim, maka langkah pertama yang mesti kita lakukan adalah menghapus ayat Al-Qur’an yang membolehkan poligami itu. Atau kita sepakatkan untuk mengutak-atik pemahamannya sehingga kita dapat satu kesimpulan bahwa poligami dilarang. Atau kita yakinkan hati kita bahwa sebagai warga negara yang baik, ketika ada benturan antara peraturan pemerintah atau opini masyarakat dengan firman Allah, maka yang harus mengalah adalah firman Allah karena kita hidup dinegara sekuler dan demokratis, bukan agama.

Nah.. jika kita semua seberani itu, tentu tak ada masalah. Tapi jika kita merasa terlalu beriman untuk menghapus ayat kitab suci, atau lebih takut kepada Allah yang menciptakan ketimbang peraturan pemerintah atau opini masyarakat yang entah berpihak pada siapa, maka yang lebih tepat mungkin bukan membenci poligaminya, karena yakin saja, jika Allah membolehkan dengan persyaratan yang berat, mestinya ada manfaat bagi umat dibalik semua itu. Mungkin lebih tepat jika kita menolak orang-orang yang melakukan poligami semau nafsunya, mementung orang yang berpoligami dengan cara minteri, menafsirkan ayat Al-Qur’an sesuai kepentingannya sendiri, maunya sendiri. Menjadikannya sebagai bumper excuse, sebagai pembenaran atas tindakannya. Sikap orang yang menyalahgunakannya yang mestinya diperangi, bukan poligaminya. Hal ini terlebih jika poligami hanya didasarkan pada nafsu seksual belaka.

Pada satu sesi kongkow tak resmi di serang, Cak Nun pernah ngobrol begini, kalau anda membiarkan suami anda menikah lagi karena alasan tak bisa menahan nafsu seksual, maka selamat, anda sudah mensejajarkan suami anda dengan sapi. Karena jika manusia, mestinya ya bisa punya kontrol. Toh saluran untuk itu sudah ada, ya satu istri yang sudah dinikahinya itu.

Jadi, silakan pilih, mau jadi manusia atau sapi

[] depok, 13.12.06

KITAB KEMESRAAN BAPAK DAN IBU

October 25th, 2006 by nangw

Ini tentang bapak dan
ibu saya. Usianya yang beranjak sepuh tak mengurangi semangat mereka untuk
kesana-sini berdua. Atau jika senggang, sambil berangin-angin di bawah pohon
jambu di teras rumah, bapak akan dengan mesra menggelitik kaki atau pinggang
ibu. Dalam gelinya, ibu lantas memukul lembut tangan nakal bapak dengan koran
yang dibacanya.

Aah, di tengah aneka
berita perceraian artis, saling tuntut atau trengginasnya orang tua menjadi
divorce planner bagi anak-anaknya, harmoni mesra kedua orang tua saya ini
sungguh menyejukkan. Membuat saya bertekad untuk semesra itu juga dengan istri
saya kelak, tak peduli sudah berapa puluh tahun menikahinya.
Bahkan
sesudah lebih dari 30 tahun seperti kedua orang tua saya.

Saya tahu, tentu saja
itu tidak mudah. Satu dua tahun pertama mungkin baik-baik saja. Tapi sesudah
lewat 20 tahun, mungkin jarang yang masih sempat merenung, kapan terakhir kali
kita ucapkan terima kasih pada istri kita saat dibuatkan sarapan. Banyak yang
merasa itu memang sudah kewajiban istri, tak perlu diterimakasihi. Atau mungkin
juga sudah tak terpikir untuk menggandeng tangan istri kita saat menemaninya
berbelanja. Atau bahkan sudah tak terfikir untuk pergi bersama. Ada anak yang
bisa mengantar, uang sudah disupply, what else?
Mending nonton liga
Italia sambil membaca koran. Toh dulu waktu pacaran dan pengantin baru sudah
kenyang runtang-runtung berdua kemana-mana.

Ini tak cuma masalah satu pihak, media, pola kerja dan pandangan akan
level pekerjaan juga punya peran membuang kemesraan pasangan-pasangan masa
kini. Coba lihat bombardir perceraian di infotainment. Satu pesohor cerai,
segenap stasiun TV memberitakan detailnya. Padahal apa bedanya cerai pesohor
dengan cerainya Mpok Entin di plosok Karawang sana.
Keduanya manusia, punya rasa punya hati. Sedih juga saat cerai, kecuali jika
saat menikah sudah dengan kebulatan tekad untuk cerai suatu saat nanti. Kenapa
yang satu harus masuk TV dan disiarkan gegap gempita? Ini akhirnya bisa
membangun pandangan bahwa cerai bukan sesuatu yang mengerikan. Cerai biasa
saja, bahkan bisa jadi trend. Masak sedikit gosong saja dicerai, salah pencet
saluran TV kesayangan saja dicerai, dikelitiki sedikit saja minta cerai. Orang
top saja cerai, masa saya tidak?

Permisivitas ini lantas menular juga pada kemesraannya. Mesra ya seadanya
saja. Sudah kawin kok, tak boleh lagi cemburu, tak perlu lagi bergandeng
tangan, macam truk saja. Semua ya biasa saja, waktu pacaran kan sudah puas melakukan semuanya, sekarang bosan ah…

Apalagi di Jakarta yang begitu metropolis. Tak hanya suami, istri juga
bekerja. Bahkan tak jarang penghasilan istri jauh melebihi suami. Repotnya
kalau sampai ini diiringi melambungnya juga arogansi dan kemandirian
superlative. Tanpamu aku bisa cari uang kok. Nggak dikasih uang belanja juga
bisa belanja sendiri kok. Kamu nggak masak aku bisa jajan di resto kok. Nggak
kau cucikan bajuku sekarang banyak laundry kok. Akhirnya kemandirian itu
mengasingkan mereka dari pasangannya. Suami-istri hanyalah sepasang manusia
yang terjebak dalam sebuah rumah pada malam hari, lalu berkeliaran
sendiri-sendiri pada siang harinya, tanpa kedekatan hati, tanpa keterkaitan
rasa.

Mungkin itu yang ingin coba dibunuh bapak dan ibu saya sejak dulu.
Pekerjaan ibu sebagai pegawai negeri lebih mapan. Tapi itu tak membuatnya
jumawa. Di rumah, beliau tetap seorang istri yang mesra pada suami. Apa yang
didapat, bersama dengan yang bapak dapat digunakan untuk bersama membangun
keluarga.

Bapak juga begitu. Mencuci baju yang jadi rutinitas tiap pagi tak
diserahkan belaka pada ibu, tetapi mereka lakukan bersama. Berkecimpung busa
dan berbasah-basah di sumur. Bapak mengucek, ibu membilas sambil saling bicara
soal apa saja. Saat ibu tak enak badan, bapak tak ragu menyambangi penjual
sayur di dekat rumah, lalu memasak sebisanya untuk ibu. Membiarkan ibu
beristirahat, sambil sesekali ditengok, dipegang keningnya untuk merasakan suhu
badannya. Bapak tak pernah memandang pekerjaan di rumah sebagai pekerjaan
merepotkan yang hanya pantas dilakukan seorang istri. Sedang ibu juga tak
pernah melihat kerja kantoran sebagai motivator untuk menjadikannya jumawa dan
merasa lebih berkuasa.

Bapak sangat tak teoritik. Tak pernah ia menjinjing leher saya untuk
diceramahi aneka konsep kemesraan atau beragam teori menjalani hidup yang baik.
Bapak dan ibu tak pernah meminta saya untuk punya gaya
hidup seperti mereka. Mereka hanya melakukan. Memberi contoh bahwa mengelitiki
kaki istri sesudah sekian puluh tahun menikah itu menyenangkan. Bahwa berpayung
berdua di terik matahari sepulang mengunjungi kerabat sesudah sekian puluh
tahun menikah itu membahagiakan. Mereka hanya menulisi buku kehidupan mereka
dengan perbuatannya, lalu membiarkan lembaran-lembarannya terbuka agar saya
bisa kapan saja membaca dan menilai sendiri baik buruknya.

Sampai hari ini, di bawah rindang pohon jambu di teras rumah kami, bapak
tetap dengan usil menggelitik kaki ibu yang segera senyum-senyum kegelian
sambil memukul mesra tangan bapak. Maka, sekarang saya paham pentingnya menanam
pohon jambu di teras rumah. [Depok, 8 Juli 2005]

BERSANDAR (SEJENAK) PADA TAKDIR

October 20th, 2006 by nangw

Hari ini saya ditampar. Seorang gadis yang mestinya masih cukup asing ternyata telah berkenan menyerapahi saya dengan rangkaian kata berhuruf besar, yang dalam komunikasi internet bermakna teriakan.

Masalahnya sepele menurut saya, walau konteks yang melatarinya jika digali bisa saja sangat kompleks. Hanya karena saya berkata ingin menjalani takdir saja untuk urusan tertentu. Nah, kata takdir ini lah pangkal keributannya. Segera setelah saya mengucapkan kata sakti itu, serangkaian kegeraman tampak memancar dari kalimat-kalimat berikutnya.

Menurutnya, percaya pada takdir adalah satu hal yang dibencinya. Sangat benci karena, menurut analisis saya atas reaksinya, bersandar pada takdir belaka akan cenderung melemahkan manusia. Membuatnya malas berusaha, cenderung leyeh-leyeh saja menanti semuanya bergulir. Takdir itu tak ada, usaha dan niat kita lah yang menentukan keberhasilan atau kegagalan kita. Maka orang yang percaya takdir adalah orang yang tak serius menjalani hidupnya.

Termasuk dalam urusan hubungan cinta misalkan, yang memang menjadi sentral diskusi kami saat itu. Mestinya tak ada kata takdir untuk bersama atau tidak bersama. Sepanjang ada usaha dan memang ingin bersama, maka bersamalah kita. Takdir hanya excuse dari ketidakseriusan menjalin hubungan. Takdir hanya pembenaran dari kegagalan yang sebetulnya memang berangkat dari ketidakpekatan niat dan usaha untuk bersama.

Dahsyat. Nyaris semalaman setelahnya batin saya seakan direnggut dari tubuhnya. Ditarik lepas dan menyisakan hanya kegamangan langkah. Ketidaknyamanan tidur, duduk atau berdiri sekalipun.

Bahwa takdir itu ada, agak sulit bagi saya untuk tidak meyakininya. Disamping karena keyakinan saya memang menyarankan demikian, tanpa meyakini adanya takdir, agak sulit menjelaskan mengapa kita tak bisa memilih mau lahir dengan wajah cantik atau ngganteng, mau pinter atau pandir secara absolut, bahkan sekedar memilih mau lahir dari pasangan orang tua yang manapun kita tak kuasa. Atau kita akan menikah dengan siapa, kita tak pernah tahu sampai terjadinya. Juga kita tak pernah bisa merancang kita akan mati dalam posisi tidur atau njengking.

Pada level yang lain, takdir juga bisa menjelaskan mengapa seahli apapun manusia, serinci apapun rencananya, sekuat apapun tenaganya, sedetil apapun perhitungannya dalam menyiapkan suatu rencana, toh tak bisa sedikitpun kita menentukan hasil rencana kita tersebut. Bahkan ketika hasil kegagalan itu dianalisis lebih lanjut, ditutupi kekurangannya dari satu rencana ulang ke rencana ulang berikutnya, tetap tak ada jaminan akan berhasil.

Ini sering terjadi pada pesawat terbang. Teknologi mesin terbang ini sudah sedemikian canggihnya. Ibaratnya, sudah banyak para ahli yang tanpa melihatpun bisa merakit pesawat yang lantas lancar bisa terbang. Soal mesin, konstruksi badan, bentuk sayap, kemiringan sudut take off, dengan sejarah penerbangan berpuluh tahun dijamin banyak orang yang sudah fasih melakukannya. Toh dengan segala kecanggihan itu tak ada satupun maskapai yang berani menjamin pesawat Jakarta-Yogya yang berangkat pagi ini akan pasti sampai di Yogya. Problem mesin toh bisa dideteksi sebelum terbang. Kemampuan pilot bisa dinilai lewat pengalaman dan latihan. Kondisi cuaca sudah sejak jauh hari bisa diprediksi. Rute perjalanan apalagi, alat navigasi udara begitu canggih dan tak ada cerita muncul gunung baru yang bisa tiba-tiba meninggi untuk bisa ditubruk si pesawat.

Ternyata kecelakaan pesawat selalu ada. Bisa karena kerusakan mesin, bisa karena cuaca, bisa karena pilotnya. Terjadi karena elemen-elemen yang sudah bisa diprediksi sebelumnya. Agak sulit jika untuk urusan ini kita tak juga percaya pada God will. Yang kita cari lantas kondisi cuacanya, kondisi mesinnya, atau human errornya seakan si pilot dengan sukarela menjatuhkan pesawatnya agar celaka berjamaah.

Ketika semua usaha maksimal sudah dilakukan. Semua kemungkinan kesalahan sudah diantisipasi. Semua faktor yang bisa bikin eror sudah disingkirkan, ternyata masih juga gagal, ini yang banyak orang menyebutnya sebagai takdir.
Saya sendiri memahami takdir bukan sebagai sketsa mati jalan hidup manusia. Mestinya yang diurus adalah bagaimana manusianya menjalani takdir. Jika ditakdirkan lahir dengan otak yang kurang encer, meski sudah jungkir balik belajar tapi tetap ndak mudeng juga, pilihannya bisa pasrah yang akan semakin menyungkurkan kita, atau justru mencoba jalan lain karena jangan-jangan kita sebetulnya cuma bodoh dipendidikan formal saja, namun jika coba berbisnis bisa jauh lebih sukses dari sarjana manapun, selain jadi pintar juga karena pengalaman non formal.

Percaya saja bahwa takdir tak mesti jadi akhir segalanya, karena memang takdir tak mesti menjadi ujung setiap persoalan. Dia sangat mungkin ada di tengah persoalan untuk menjadi gerbang kearah mana langkah manusia yang menjalani selanjutnya. Ini karena jika kita melulu percaya pada usaha belaka, ketika kemudian hasilnya tak sesuai dengan rencana kita, kecewanya bukan main. Kita tak punya jalan samping untuk melegakan hati. Alih-alih menangkap waskita dibaliknya, kita akan berkutat menyalahkan ini dan itu, mencari kambing hitam, hijau, biru atau belang.

Saya sendiri lebih melihat fungsi takdir sebagai kerendahhatian manusia dalam menjalani hidup. Sebagai kesadaran manusia akan keterbatasannya. Kesadaran bahwa sebagai manusia, tugas kita hanyalah berusaha sebaik mungkin tanpa sedikitpun otoritas untuk menentukan hasilnya. Dengan begini mestinya takdir justru akan menguatkan, bukan melemahkan.

Ya, takdir memang oase hikmah. Tempat kita sejenak bersandar, mencoba memahami dan memutar ulang apa yang sudah kita jalani hingga sampai ke titik gagal atau berhasil di persimpangan takdir itu, untuk kemudian memompa semangat merangkai rencana baru dengan lebih baik untuk langkah berikutnya. Ini karena sebagai sebuah oase, takdir memang bukan tujuan. Dia hanya pentung yang kadang kita rasa kelewat keras untuk mengembalikan diri kita ke hakekat kemanusiaan sejati. Hakekat kemanusiaan sebagai mahluk, bukan Tuhan. []nangw@19.10.06

Jalan Tengah Ala Mbah To

October 8th, 2005 by nangw

Rene Descartes, pemikir ulung dari Prancis konon selalu meragukan segala sesuatu. Ini konsep berfikir kritis versi dia. Semua kebenaran mesti diragukan kebenarannya agar suatu saat kelak kita menemukan kebenaran yang sungguh-sungguh benar.

Kapankah itu? Setidaknya batasannya adalah usia kita. Setelah kita pindah alam dan tak lagi beralamat di bumi, jika kemudian anak cucu kita menemukan kebenaran baru toh kita sudah tak urusan lagi dengan kebenaran versi pemikiran manusia itu. Kita sudah entah dimana. Sebagian menyebut alam akhirat, sebagian bilang sudah bereinkarnasi, sebagian lainnya bilang ya sudah selesai saja hidupnya, tak jadi apa-apa lagi.

Pemikiran selalu meragukan ini bukan main dahsyatnya. Pada suatu titik, sebagai sebuah konsekuensi, Descartes juga kemudian sampai pada keraguannya tentang Tuhan. Terlebih lagi, untuk meragukannya secara netral, maka kita tak boleh memulainya dari Tuhan itu ada atau Tuhan itu tidak ada. Kita harus mulai tidak dari keduanya. Jika tidak, pemikiran kita akan dikacaukan oleh kecenderungan pada salah satunya.

Bagi orang yang lahir dan besar dalam iklim theisme, jelas ini luar biasa sesatnya. Ini merupakan konsekuensi penjunjungan tanpa batas atas akal pikiran manusia.

Perdebatan yang kemudian menjadi seru adalah, apakah akal pikiran manusia itu terbatas, atau tak terbatas? Yang menjawab pilihan pertama dan kedua bisa jadi sama banyaknya. Saya sendiri juga pasti bingung bukan main jika ditanya sampai dimana batas pikiran manusia. Bahkan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan, pada suatu saat bisa jadi terpikirkan. Termasuk pemikiran tentang sesuatu yang tak pernah kita jumpai dalam hidup kita, seperti jin, malaikat, bahkan Tuhan. Bukan, ini bukan cuma berlaku pada penganut agama samawi yang bisa jadi mengenal konsep Tuhan dari kita suci agamanya. Ternyata ini juga berlaku pada masyarakat animisme dan dinamisme. Hanya pada kaum ini, perujudannya lebih formalistik, ada sosok fisik yang dianggap punya roh sakti dibelakangnya, walau selama hidupnya mereka juga tak pernah tau seperti apa ujud roh itu.

Saya selalu tergelitik untuk menjawab batas pikiran manusia. Ditengah kehidupan kita yang makin mengagungkan rasional (walau ketika modernisasi kelewatan dan kemakmuran tak bersahabat, banyak diantara kita yang justru jadi sangat tak rasional) saya justru tertarik untuk merekakan keterbatasan akal manusia. Dan yang paling mudah saya temukan tentang ini adalah, keterbatasan akal manusia yang paling nyata ada pada ketidakmampuannya mengetahui batas pemikiran akal manusia sendiri. Bagi saya ini adalah kegagalan paling mendasar untuk menempatkan akal manusia sebagai lokomotif di atas segalanya. Ini bagai orang yang tak tahu di tidak tahunya. Kuadran keempat dari empat karakter manusia. Sayangnya, kuadran ini dipercaya sebagai kuadran yang paling memalukan.

Saya lebih suka pendekatan jalan tengah model Mbah To (Panggilan akrab saya untuk Aristoteles). Secara eksplisit Mbah To menyatakan tak baik segala sesuatu yang terlalu kurang atau terlalu lebih. Yang terbaik adalah yang ada ditengah-tengahnya. Atas akal pikiran juga begitu. Terlalu mengagungkannya bisa sesat, tapi meng-underestimate-kannya juga jadi pandir. Lebih baik berupaya untuk terus mengasahnya dengan berpikir lebih kritis, tapi tak lantas menganggapnya paling hebat di atas segalanya. Asah saja terus tanpa harus berpikir untuk menggunakannya menerabas semua belantara dunia. Gunakan saja terus agar kodrat berpikirnya terjaga, tapi jangan lantas menganggap bahwa otak kita ada dibatok kepala ini secara kebetulan saja, tak ada yang berperan meletakkan dan memfungsikannya.

Jauh lebih ramah Socrates yang secara manusiawi memilih untuk menyebut kebenaran sebagai kesesatan yang diyakini sekian lama, dan kesesatan sebagai kebenaran yang hanya sesaat. Ini memang lebih definitif ketimbang mengkritisi dengan keraguan versi Descartes, tapi setidaknya inilah yang kemudian berlaku dalam berbagai sisi kehidupan kita.

Nah, pilihan ada pada masing-masing kita, mau percaya yang Maha Hebat tu Tuhan, atau pikiran kita. Kalau pilihannya yang kedua, jangan-jangan kita sebetulnya bukan tak percaya akan adanya Tuhan, hanya kita menggantinya dengan mengangkat pikiran kita sebagai tuhan yang baru []nangw 10.2005

BAHASA KITA, BUKAN MAIN…!!

July 22nd, 2005 by nangw

Tahu bedanya ABRI dengan TNI? Atau wanita dengan perempuan? Atau antara
pelacur, WTS dan PSK?

Memusingkan memang karena ABRI dan TNI ya tentara-tentara juga. Sosoknya
sama, anggotanya sama, ujudnya juga sama. Wanita dan perempuan juga secara
struktur sama. Kelengkapan fisiknya sama, juga sosoknya. Pelacur, WTS dan PSK
ya idem dito, sama saja.

Entah kenapa, kita tampaknya senang sekali mengganti-ganti nama untuk
banyak hal yang dianggap kurang baik citranya, atau kurang menguntungkan
posisinya. Angkatan bersenjata mungkin dinilai terlalu luas dan cuma
merefleksikan sekoloni orang yang hobinya mengangkat-angkat senjata dan
menembaki siapa saja. Maka kalau anda kemudian menebang pohon dengan golok,
anda sudah termasuk angkatan bersenjata, bersenjata golok. Atau kalau kita
berkelahi lalu mencucuk mata musuh dengan pulpen, kita adalah angkatan
bersenjata, bersenjata pulpen. Ini jelas tidak menguntungkan untuk urusan
citra. TNI jelas lebih bagus. Lebih segmented. Tentara Nasional Indonesia jelas
refleksi dari sekelompok militer dengan seragam tertentu, keahlian khusus dan
segala atribut yang melekat dengan sosok yang berjudul tentara. Bukan cuma
pengangkat senjata.

Kata perempuan oleh beberapa pihak lebih disukai ketimbang wanita. Saya
tidak paham betul alasannya. Tapi sangat mungkin ini juga urusan citra. Kata
wanita pernah dirangkai dengan kata tuna susila yang citranya amat buruk. WTS
singkatan populernya. Sedangakan kata perempuan relatif lebih bersih. Istilah
perempuan eksperimen hanya dikenal oleh kelompok anak muda yang lebih terbatas,
walau esensinya sama saja buruknya.

Sebutan WTS inipun kemudian menjadi menarik karena pada kenyataannya
tidak ada seorangpun yang tidak bersusila. Jika saya seorang pelacur, saya akan
sangat tersinggung jika disebut sebagai tuna susila. Semua orang punya susila
hanya saja standar dan kadarnya berbeda-beda pada tiap orang. Bagi saya, para
bule yang gemar mencopoti BH-nya saat berbaring dipantai Kuta tergolong asusila
pada saat mereka melakukan itu. Tapi coba tanyakan pada mereka. Karena merasa
pantai adalah tempat berjemur, maka yang mereka umbar itu tidak mereka anggap
melanggar susila. Yang mereka pajang itu cuma bagain tubuh belaka, sama seperti
tangan, kaki atau kepala, bukan perangkat genital atau aurat kewanitaan. Jika
kemudian membuat banyak orang melirik dan berdebar-debar, ya itu tentu bukan
salah mereka. Jadi mereka juga punya susila, cuma kadar dan standarnya berbeda.

Begitu juga pelacur. Mereka juga punya susila. Itu sebabnya mereka tidak
lantas telanjang bulat saat jalan-jalan atau menunggu pelanggan di mal. Itu
sebabnya mereka tidak kemudian mencumbui semua orang yang mereka temui di bus
misalkan. Mereka cuma menurunkan kadar dan standar susila mereka pada orang
yang mau membayarnya. Mereka bukan tuna susila, mereka adalah, pada saat-saat
tertentu, pelanggar standar susila yang dimiliki dan disepakati oleh rata-rata
manusia.

Untuk urusan citra juga rasanya sebutan untuk kelompok pelacur ini
termasuk yang paling sering mengalami perubahan abreviasi. Kalau jaman Jepang
dulu dikenal sebagai cabo, kemudian pada masa 70 dan 80-an muncul istilah
perempuan eksperimen atau perek yang jika menilik katanya, maknanya sangat mengerikan.
Perempuan yang bisa jadi ajang eksperimen urusan begituan. Hiii…. Setelah itu
ada istilah yang bisa jadi lebih universal, pelacur. Lantas ganti jadi wanita
tuna susila dan yang belakangan ini sering disebut-sebut media massa adalah
pekerja seks komersial (PSK).

Sayangnya, urusan penggunaan kata ini kemudian jadi mbulet ketika kita
sandingkan dengan berbagai konteks lain. Pergeseran makna katanya memang
membaik, dari wanita yang dianggap tidak punya susila menjadi seorang pekerja.
Tapi coba bayangkan, kita mengutuk pelacuran tetapi menganggapnya sebagai
sebuah pekerjaan dengan menyebut pelakunya sebagai pekerja seks komersial. Kita
mengharamkan perbuatan asusila, tapi ketika itu dikomersialkan, maka menjadi
tidak terlalu haram.

Ini memang cuma urusan kata. Tapi ada banyak sisi yang kemudian
terpengaruhi. Apalagi kita seringkali sangat concern dengan urusan penggunaan
kata sampai-sampai lupa bahwa sebetulnya sosok yang kita beri nama itu lebih
membutuhkan perhatian dan perubahan dibanding penamaannya sendiri. Kita bisa
segera duduk tenang setelah mengganti desa miskin dengan desa tertinggal,
mengubah masyarakat miskin dengan pra sejahtera dan kelaparan menjadi rawan
pangan. Kita seringkali merasa dengan mengubah bahasa segalanya bakal beres.
Kita menganggap bahasa kita begitu sakti. Kita lupa bahwa bahasa bukan
segala-galanya dalam pembentukan citra.

Mengganti nama saja tidak cukup untuk membuat segalanya menjadi lebih
baik. Baik-baik saja mengganti nama ABRI menjadi TNI. Tapi urusan prilaku dan
tindak represif tidak bisa diredam cuma dengan mengganti nama. Esensi pelacuran
tidak akan berubah, tingkat keharamannya tidak akan menurun dengan mengganti
sebutan WTS menjadi PSK, bahkan jika kemudian diganti menjadi Perempuan Pejuang
Ekonomi Bangsa.

Lho, kenapa tidak. Pelacur kelas internasional kan pastinya sanggup
mengeruk kocek para taipan asing atau para bule gatal yang mengencani mereka.
Belum lagi pemasukan dari sewa hotel yang mestinya harus berkelas, biaya makan
malam, belanja-belanja. Dari segi ekonomi, itu jelas devisa bagi negara. Maka
sebagai pejuang ekonomi bangsa, jika kemudian mereka gugur dalam tugas, para
pelacur ini berhak menghuni Taman Makan Pahlawan. Jika mereka kemudian kudisan
atau kena HIV dalam rangka melayani tamunya untuk mengais devisa, mereka harus
dirawat dengan layak oleh negara.

Itu dari sisi ekonomi. Tapi yakinlah bahwa yang dibutuhkan bukanlah
sekedar penggantian nama, istilah atau sebutan. Yang dibutuhkan adalah
pengembalian hakekat mereka sebagai manusia, bukan sebagai obyek seks atau
perangkat artifisial pemuas nafsu. Dan itu mestinya dibangun dari dua arah. Ya
pelacurnya ya pengguna jasanya. Caranya bisa macam-macam. Kalau saja kita,
pemerintah dan seluruh bangsa ini seius dan benar-benar berfikir, pasti ada
sangat banyak alternatif yang bisa ditempuh. Tapi jangankan untuk berfikir,
untuk tidak tergiur pun kita mesti berjuang keras. Apalagi ketika semuanya
menjadi semakin permisif. [] nangw@22.03.2003